13
Mar
09

Ki Semar Jadi Capres 3009

semar-logo-3

Hari ini pondok tempat  Ki Semar tinggal ramai dikunjungi para pimpinan Parpol dan sejumlah pengurusnya. Mereka datang guna menyampaikan kesiapan masing-masing parpol yang di pimpinnya untuk mengusung Ki Semar dalam Capres 3009. Mendapat kunjungan ini Ki Semar sempat terkejut, tak menyangka rencana dirinya untuk ikut Capres 3009 memperoleh banyak dukungan dari Parpol yang ada.

Dengan tersenyum ramah Ki Semar mempersilahkan para tamunya untuk masuk. “Ayo jangan sungkan-sungkan masuk saja, kalau pondok seperti ini saja kalian sungkan bagaimana jika aku nanti tinggal di Istana Negara, bisa-bisa kalian tidak pernah nongol” kelakar Ki Semar kepada para tamunya. Menanggapi kelakar Ki Semar salah satu pimpinan Parpol yang juga anggota DPR menjawab: “Ah, Ki Semar bisa saja, sebagai Ketua Parpol yang juga Anggota DPR saya sudah terbiasa masuk gubuk rakyat kecil, makan bersama anak yatim atau ngobrol dengan para gelandangan.” Mendengar jawaban itu Ki Semar terkejut dan dengan tulus berkata: “Aduh, mulia sekali hati bapak. Tak salah rakyat memilih bapak sebagai anggota dewan yang terhormat, kalau saya terpilih jadi Presiden nanti pasti saya akan meniru akhlak bapak.” Sang tamu tersenyum bangga dan sambil mencari tempat duduk dia berkata: “Benar ki semua itu saya lakukan hanya dengan sebuah syarat kecil, kegiatan itu harus diliput oleh Wartawan televisi. Wah seneng deh Ki. Semua orang memandang kagum kepada saya.”

Wajah Ki Semar tampak memerah namun dipaksakan untuk tersenyum. “Kalau tidak diliput televisi, bagaimana pak?” Dengan tanpa perasaan berdosa sambil menyulut sebatang rokok sang ketua parpol yang juga anggota dewan itu menjawab: “Emangnya saya orang bodoh, yang mau dibodohi serta melayani gelandangan dan anak yatim, jelas saya tidak mau Ki. Mahal-mahal jadi anggota dewan masak harus melayani gelandanga dan anak yatim, mending ngobrol ama rekanan proyek di Café. Bisa karaoke, joget pokoknya asyik deh.”

Sejenak ruangan menjadi hening, hanya sesekali terdengar kicau burung perkutut piaraan Ki Semar. Suasana hening dan kaku akhirnya berakhir ketika ketua koalisi beberapa partai memulai pembicaraannya. “Begini Ki maksud kedatangan kami kemari karena mendengar Ki Semar ikut jadi Capres 3009. Makanya kami tawarkan koalisi yang sudah saya bentuk. Dan supaya Ki Semar jelas maka saya perkenalkan teman koalisi saya:

Yang pakai Jas Merah itu dari “ Partai Yoyo,” dia puteri seorang Presiden dan juga Proklamator negeri Jamrud Khatulistiwa. Bapaknya adalah orang hebat di negeri ini. Kalau anaknya sih jauh banget dari bapaknya. Tapi yang penting kan dia anak orang hebat.

Yang pakai Jas Hijau itu dari “Partai Gitu Aja Kok Repot.” Dia mantan presiden di negeri Jamrud Khatulistiwa.” Dia sudah bosan atau memang nggak dipilih lagi oleh rakyat untuk jadi presiden, tapi yang jelas dia masih suka memberi komentar tentang berbagai masalah di negeri Jamrud Khatulistiwa ini. Tapi kadang-kadang komentarnya nggak nyambung dengan masalah yang dikomentarinya. Yang penting kan komentarnya. Kalau urusan jadi presiden dia suka amburadul.

Yang pakai Jas Kuning itu dari “Partai Beringin Angker.”  Ki Semar jangan kuatir, walau orangnya kecil tapi dia cerdik seperti kancil. Namanya juga kancil yang dipikir hanya timun. Konon kabarnya Partai Beringin Angker itu pernah jaya. Bagaimana tidak akan jaya wong bisanya hanya numpang hidup dari penguasa. Sekali lagi sing penting pernah jaya.” Demikian sang tamu menjelaskan ketiga koalisinya kepada Ki Semar.

“Kalau anda sendiri dari partai apa, kok tidak di sebutkan.” Celetuk Ki Semar pada sang juru bicara. “Kalau saya ikut partai siapa menang, maksudnya saya selalu masuk dalam partai yang punya harapan untuk menang, soalnya yang penting bagi saya adalah jadi anggota dewan. Masalah partai saya nggak ngerti, wong ijasah saya aja palsu semua kok” demikian penjelasan sang juru bicara menjawab pertanyaan Ki Semar.

“Wah mimpi apa saya semalam kok bisa di datangi oleh bapak-bapak yang hebat ini. Mengingat pada masalah dukungan terhadap saya untuk maju jadi Capres 3009 apa yang harus saya lakukan untuk bapak-bapak yang terhormat ini.” Tanya Ki Semar penuh antusias dan mata berbinar binar.

“Gitu aja kok repot, Ki semar tidak usah bingung, kami hanya mengajukan 3 syarat dan setiap syarat tidaklah terlalu berat. Untuk jelasnya biar teman saya dari Partai Yoyo yang menjelaskan.” Demikian utusan Partai Gitu Aja Kok Repot mengakhiri komentarnya. Dengan langkah tegap laksana seorang orator ulung utusan Partai Yoyo berdiri menghampiri Ki Semar. Ki Semar tampak grogi, habis pimpinan Partai Yoyo perempuan.

“Begini Ki Semar” ujar wanita berjaket merah memulai pembicaraannya. “Saya ada 3 syarat yang harus dipenuhi oleh Ki Semar menjelang dan saat menjadi Presiden.

Pertama: Bantu Partai koalisi ini dengan berbagai cara Ki Semar baik berupa uang sebanyak mungkin  maupun berupa tipuan kepada masyarakat agar mereka memilih partai kami. Harapannya Partai kami akan mendapat minimal 20% suara, dengan begitu baru kami punya kesempatan untuk mengajukan Capres 3009. Dan tentu saja Ki Semar yang akan kami ajukan.

Kedua: Saat menjadi presiden, dan tiba waktunya menyusun Dewan Menteri Kabinet, maka Ki Semar harus mampu memasukkan sebanyak mungkin kader terbaik dari partai koalisi ini untuk menjadi menteri. Demi bangsa dan tanah air kader kami pasti mau untuk menjadi menteri. Soalnya kader kami mayoritas adalah pengangguran tetapi mereka memiliki ijasah palsu. Ingat Ki Semar mereka telah berjasa pada Ki Semar. Kapan lagi Ki Semar hendak membalas budi mereka kalau tidak saat menjadi presiden.

Ketiga: Saat menjadi presiden nanti,tolong kucurkan dana untuk membesarkan partai koalisi. Dengan kucuran dana secara tersembunyi dari Ki Semar maka Partai koalisi ini akan tetap jaya dan siapa untuk mengusung Ki Semar sebagai Capres 3014.

Apabila pada saat menjadi Presiden, Ki semar mengingkari janji maka kami akan berubah menjadi oposisi yang selalu mengkritik Ki Semar. Walau harus kami akui seandainya kami yang jadi Presiden pasti kepemimpinan kami jauh lebih buruk dari Ki Semar. Ingat,sing penting krtikane.” Begitu utusan yang berjaket merah mengakhiri sambutannya.

Sambil duduk kembali nampak wanita yang berjaket merah tadi memijat tangan kanannya, sambil berbisik pada 2 rekannya: “Tanganku bengkak, aku tadi coba pidato sambil mengangkat tangan. Maksudku meniru gaya bapakku kalau lagi berpidato. Tapi aku kecewa, Ki Semar tidak terlihat kagum malah tanganku yang bengkak” kedua temannya tampak tersenyum geli.

Sementara itu Ki Semar nampak gelisah, beberapa kali diteguknya kendi yang berisi air yang ada di hadapannya. Ki Semar nampak bingung dan seperti orang yang berusaha mengingat sesuatu. Karena tak tahan akhirnya Ki Semar berkata kepada para tamunya: “ Maaf mungkin karena saya sudah tua dan agak tuli sehingga saya kurang mendengar penjelasan ibu yang berjaket merah tadi. Yang saya dengar tadi hanya 3 kewajiban saya untuk partai yang mendukung saya jadi presiden. Kewajiban saya untuk rakyat negeri jamrud Khatulistiwa ini ada pada nomer berapa? Kok saya tidak mendengarnya.” Tanya Ki Semar dengan wajah lugu dan penuh malu.

“Soal rakyat aja kok repot, itu terserah Ki Semar mau di taruh di nomer berapa. Bukan Ki semar yang tuli tapi memang kami tidak menyebut urusan rakyat. Tuli aja kok repot” jawab utusan yang berjaket hijau.

Nampak Ki Semar mengangguk angguk, mencoba memakami apa yang baru saja dia dengar. Perlahan-lahan ditariknya nafas dalam-dalam. Setelah merasa tenang barulah Ki Semar bicara: Bapak-bapak tokoh parpol yang hebat, ijinkan saya untuk merenungkan tawaran bapak tentang pencalonan saya sebagai Capres 3009. Nanti sore jawaban saya pasti sudah saya sampaikan lewat surat. Saya tidak mau menunda masalah ini karena saya sudah tidak sabar untuk pindah ke Istana Negara. Mohon untuk sementara biarkan saya sendiri.” Demikian Ki Semar mengakhiri perkataannya.

“Baik Ki Semar kami mohon diri dulu, saya tunggu jawabannya nanti sore. Ingat Ki Semar, siapa cepat dia dapat. Siapa telat akan kualat.” Dengan wajah penuh sok wibawa pulanglah para tokoh partai politik dari rumah Ki Semar. Dari jauh nampak Ki Semar dengan penuh hormat mengantar tamunya sampai di halaman.

Sambil bersiul kecil Ki Semar masuk dalam pondoknya, dibukanya laci tua yang sudah banyak dimakan rayap, ternyata disana Ki Semar menyimpan sekantung uang logam dan beberapa helai kertas beserta sebuah pena usang. Sambil duduk bersila Ki Semar mulai menulis surat jawaban atas rencana pencalonan dirinya menjadi Presiden. Rupanya Ki Semar begitu bermbisi menulis surat itu sehingga dalam waktu singkat surat itu telah selesai dibuatnya. Saking senangnya tak terasa bibirn ki Semar kembali bersiul. Tiba-tiba Ki Semar berteriak pada seorang tetangga yang sedang lewat di depan halaman Ki Semar, “ Jo sini Bantu aku” teriak Ki Semar. “Ada apa Ki kok nampaknya seneng banget” Tanya bejo dengan wajah polosnya. “ Sudahlah jangan banyak tanya ini urusan Politik Tingkat Tinggi, yang penting surat ini kamu antar ke kantor partai yang ada disamping balai desa itu, dan ini sekeping uang buat kamu, ingat jangan kamu pakai buat beli togel mending buat buat beli beras.” Tanpa di suruh dua kali si bejo lansung lari menuju kantor yang ada di samping Balai Desa. Sementara Ki Semar dengan langkah tegak kembali masuk kepondoknya. Diambilnya kantung yang berisi uang logam dan mulailah Ki Semar menghitungnya.

Sementara itu di Kantor yang berada di samping Balai Desa nampak tiga pimpinan Parpol saling berebut untuk membaca surat jawaban Ki Semar. Mereka akhirnya sepakat menyerahkan surat kepada Ketua Umum Partai Yoyo untuk membacakannya. Seperti biasanya dengan gaya sok jadi orator mulailah dia membaca Surat Ki Semar yang berbunyi:

Kepada Yth: Para Pimpinan Partai yang berkoalisi.

Setelah saya renungkan 3 syarat yang di ajukan kepada saya maka saya dapat saya tarik kesimpulan bahwa bila nanti saya menjadi Presiden maka tugas sebenarnya yang saya lakukan adalah menjadi Budak bapak-bapak selaku Pemimpin parpol yang mengusung saya. Setiap hari saya harus melayani kebutuhan bapak-bapak, lalu kapan waktu saya untuk mengabdi kepada rakyat yang telah memberikan amanah kepada saya. Saya sadar tanpa bantuan bapak-bapak saya sulit menjadi Presiden, karena untuk maju sebagai Calon Independent pun saya tidak bisa, terbentur oleh keputusan Mahkmah Konstitusi (MK). Padahal dengan menjadi calon presiden Independent saya akan bebas dari rasa hutang budi yang berdampak pada kebijakan balas budi  kepada Parpol.

Dengan dasar ketidak mampuan saya untuk menjadi budak parpol maka dengan ini saya menyatakan mundur sebagai  Capres 3009.

Sementara dana yang saya tabung akan saya gunakan untuk biaya ibadh haji tahun ini. Doakan semoga saya menjadi Haji yang Mabrur.

Hormat kami : Ki Semar

Iklan

0 Responses to “Ki Semar Jadi Capres 3009”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Aku menulis hanya sebatas nalar yang aku punya. Maka tak heran bila terkadang terkesan ugal-ugalan dan berbeda pendapat dengan anda. Salam: Ki Semar

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: