24
Sep
09

Soekarno Bukan Dewa

  • Soekarno (6)
    Pasca keruntuhan Orde Baru seolah menjadi lampu hijau untuk bangkitnya kembali Soekarnoisme di Indonesia. Bagaikan orang yang berpuasa untuk mengagungkan Soekarno, maka bedug keruntuhan Orde Baru dijadikan saat yang tepat untuk melepas kehausan sepuas-puasnya terhadap figur Soekarno.
    Seiring kondisi di atas ada pertanyaan yang harus kita jawab dengan akal sehat, bukan dengan memori indah masa lalu. “Layakkah Soekarno memperoleh sanjungan yang tak berbatas itu ?” Jawabnya adalah “tidak, sekali lagi tidak.” Jawaban ini saya yakin menimbulkan kemarahan bagi para Soekarnoisme. Tetapi memang itu yang harus saya katakan.
    Sebagai seorang orator maka saya mengacungkan jempol untuk Soekarno. Sebagai pemersatu bangsa, Soekarno tiada duanya. Sebagai Proklamator, jangan coba-coba ada yang mengingkari. Tetapi sebagai pemimpin besar bangsa ini kita harus berfikir secara jernih.
    Pola pikir Soekarno dan penghormatan rakyat lapisan bawah akan lebih tepat seandainya Soekarno menjadi “Raja Indonesia” dan memimpin bangsa ini dijaman kerajaan.
    Ada beberapa hal yang dimiliki Soekarno yang hanya layak diperoleh dan dilakukan oleh seorang raja diantaranya:
    1. Presiden seumur hidup.
    2. Demokrasi terpimpin.
    3. Kultus individu.
    4. Adanya lebih dari satu istri .

    Presiden seumur hidup: Pengangkatan dirinya (tidak adanya penolakan) sebagai Presiden seumur hidup merupakan pemutar balikan secara drastis apa yang selama ini selalu dia perjuangkan. Menghapus feodalisme di Indonesia. Indonesia harus menjadi negara demokrasi demikian selalu Soekarno katakan, dan sendainya bukan Soekarno yang diangkat menjadi presiden seumur hidup maka saya yakin dia akan menjadi orang terdepan yang memprotes keputusan tersebut. Kepentingan pribadi telah berada di atas visi perjuangan Soekarno. Dan hanya seorang raja yang berhak atas pengangkatan tersebut. Soekarno mencoba menembus dinding sebagai “Presiden RI” menuju “Raja Indonesia”
    Demokrasi terpimpin: Demokrasi yang bertanggung jawab dan beretika adalah suatu keharusan, tetapi demokrasi terpimpin merupakan bibir otoriter yang dibalut gincu demokrasi. Kondisi yang demikian hanya patut terjadi dijaman kerajaan. Adakah faktor usia telah membuat Soekarno lupa bahwa dia hidup di Negara Demokrasi bukan dijaman kerajaan.
    Kultus Individu yang terlalu dominan dan terkadang berbau mistik makin melengkapi Soekarno untuk menjadi seorang raja. Peci, tongkat komando sering menimbulkan kisah mistik laksana busana dan keris para raja. Soekarno sebagai seorang intelektual seakan-akan membiarkan semua itu semakin berkembang, termasuk gambar di atas mungkin lebih layak diterima seorang raja bukan seorang Presiden.
    Keberadaan lebih dari satu istri lebih mendekatkan Soekarno sebagai seorang raja, dan hal tersebut dianggap wajar untuk seorang Soekarno. Kultus individu telah menutup mata semua elemen bangsa saat itu. Setiap kunjungan ke luar negeri selalu mengisahkan cerita kecil tentang Soekarno dan wanita. Termasuk saat bung Karno hendak membeli BH di sebuah pertokoan di luar negeri, ia tak segan memajang semua pramu niaga wanita guna mencari ukuran yang pas. Etiskah itu dilakukan oleh seorang kepala Negara ? dan begitu pentingkah BH tersebut sehingga harus dibeli disela-sela kunjungan sebagai kepala Negara. Dimanakah nama bangsa yang terkenal dengan sopan santunnya ?
    Bagi anda yang pernah membaca Sewindu Dekat Bung Karno, tentu akan menemui cuplikan cerita bagaimana seorang ajudan Presiden (Kol. KKO. Bambang Wijanarko) diminta untuk mencari teman kencan pada malam hari, dan harus menceritakan kemesuman yang terjadi pada malam itu pada saat sarapan pagi keesokan harinya. Adakah hal ini lazim dilakukan oleh seorang Presiden ?
    Kondisi pada saat itu membuat semua orang takut untuk memberikan peringatan kepada Soekarno, pers kehabisan tinta untuk menulis dan akhirnya diam bahkan menyebut itu semua sebagai kelebihan dari sosok Soekarno, karena semua sadar apabila hal itu dilakukan maka tangan besi Soekarno sebagai jawabannya. Pada prinsipnya tangan besi Soekarno tak jauh berbeda dengan tangan besi seorang raja, serta saudara kembar dari system Soeharto. Merah hitam Indonesia ditentukan oleh Soekarno.
    Mari kita bedah nurani ini, dan tempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, termasuk sosok Soekarno. Namun demikian, masih banyak sumbangsih Soekarno untuk bangsa ini. Dan tidak terlalu berlebihan apa bila berdasar pada sisi positif perjuangan Soekarno maka pemerintah menetapkan serta mengangkat Soekarno menjadi Pahlawan Nasional.

    Salam: Ki Semar.

    Iklan

    14 Responses to “Soekarno Bukan Dewa”


    1. 1 andrewiwanto
      September 24, 2009 pukul 1:15 pm

      Tapi menrurt pendapat saya pemikiran dari para soekarnois sah2 saja dan anda memberikan deskripsi mungkin dari 4 sisi itu saja, saya pribadi bukan soekarnois, tpi bagi saya pandangan poltik bung karno masih sangat valid dan itu seharuny dipelajari setiap elemen bangsa ini. konsep2 dari pemikiran beliau itu sangat dalam dan belum ada yang bisa seperti beliau dan bisa menjalankan. tapi intinya kalo anda melihat dari sudut pandang itu ya saya kira tidak bisa gebaya uyah, karena soearnois fanatik buta dgn bung karno, tapi coba anda telaah :
      1. sudut pandang geopolotik saat itu spt ap, knp gaya beliau spt, saya kira arah sudut pandang plitik kan ke arah sosialis, beda lho dgn komunis, kan kita semua jaman Orba segalanya kan semua komunis. saya kira hasil akhir adalah kasus 65 itu kan perlu juga diungkap.
      2. saya kira klo dari sudut pandang seorang bung karno pnya istri banyak, saya kira lebih baik, ya kita banding kan pejabat sekarang…rahasia umumlah…..
      3. klo presiden seumur hidup tentunya, pak harto kan juga begitu….ya knp ad reformasi…la terus ap orde baru tdk otoriter betul.., tp kita akui lah rasa nasionalisme jaman orba smp skr itu luntur kan, harusnya kita semua belajar dari Orla bangun jiwa nya..la jaman reformasi neh yang
      4.say kira kultus individu itu terbentuk karena kondisi waktu itu, kita akui saja blm ad tokoh spt beliau
      5. terakhir pertanyaan saya, sudahkah anda membaca buku di bawah bendera revolusi, karena tokoh yang pnya pemikiran hanya beliau..pak harto tidak ada itu….kalo anda sudah baca tentunya mengerti..knp kondisi saat itu spt yang anda kemukakan…
      tapi sisi jelek ttg istri mungkin faktor x dr beliau…

      tapi intiny deskripsi diatas lebih kpd konteks politik saat it dan bnayk hal yg belum tersingkap dari sejarah yg ad..krn kontesk nya adalah siapa yng berkuasa ya yg mmbuat sejarah

    2. September 24, 2009 pukul 10:38 pm

      Tanggapan utk: Mas Andrewiwanto
      Saya mencoba utk menanggapi tanggapan Mas Andrewiwanto perpoint tanggapan.
      1. Perihal Soekarno komunis apa tidak saya sependapat dengan saudara. Bahkan untuk di sebut sosialispun rasanya kurang tepat. Soekarno hendak menciptakan sebuah paham baru, sebuah paham sosialis yang dimodifikasi dengan pemikiram Soekarno sendiri.

      2. Secara tidak langsung saya melihat anda sebagai Soekarnois sehingga anda mencoba memberikan pembenaran terhadap semua tindakan Soekarno, termasuk adanya beberapa wanita di sampingnya. Hal ini bisa dianggap wajar bila posisi Soekarno bukan seorang Presiden RI.

      3. Tentang Presiden seumur hidup, cara Soeharto lebih konstitusional (walau dalam wacana rekayasa), sebab proses mempertahankan posisi sebagai Presiden dilalukan secara bertahap perlima tahun. Tentang masalah otoriter saya justru berpendapat bahwa Soehartopun otoriter.

      4. Alhamdulillah sejak masih SMA saya sudah membaca buku tersebut.Dan saya sudah lupa berapa kali saya menamatkan membaca isinya. Karena itulah dalam kupasan masalah Presiden seumur hidup kalau anda jeli disana saya sebutkan “Pengangkatan dirinya (tidak adanya penolakan) sebagai Presiden seumur hidup merupakan pemutar balikan secara drastis apa yang selama ini selalu dia perjuangkan.” Apa lagi anda membaca “Indonesia Menggugat” maka akan nyata sekali perbedaan Soekarno antara “Soekarno muda” dan Soekarno sebagai seorang Presiden.

      Terakhir saya katakan bahwa saya adalah Soekarnois, saya paling gemar mengkoleksi foto Bung Karno. Tetapi saya selalu sadar dan tidak menempatkan Soekarno lebih dari yang semestinya dia terima.

      Salam: Ki Semar.

    3. 3 nxf
      Oktober 21, 2009 pukul 9:58 am

      banyak istri kayak kiai dong?

    4. Oktober 21, 2009 pukul 10:28 am

      kalau kiai banyak istrinya maka mending dulu mondok biar jadi kiai

    5. Desember 2, 2009 pukul 3:02 pm

      saya sudah membaca Blog Ki semar sedari kemarin, jujur saya haus dengan cerita2 tentang Soekarno dan saya ingin menyelami kehidupan beliau dari berbagai sisi, kita ambil yang menurut kita baik dan kita koreksi yang kurang dan tidak patut di contoh, untuk tulisan ini saya setuju dengan pendapat Ki semar, memang saat membaca tulisan yang satu ini saya menjadi “tidak bisa menerima atau Bukan bgtu maksudya” tapi secara Logika dan sadar memeng yang Ki tulis benar adanya, President seumur hidup dan Demokrasi Terpimpin itu adalah kelanjutan dari pada raja2, bgtupun banyak istri, tapi bagai mana pun kita seinsyaf-insyaf nya mengakui dengan perasaan kagum yg luar biasa sangat kepada beliau.

      akhirnya saya ucapkan banyak terimakasih kepada Ki semar atas tulisan dan Blog ini yang akan saya lahap semua isi tulisan dari Ki semar, dan saya mohon ijin untuk “membajak” jika boleh memakai kata2 seperti itu atau copy paste tulisan Ki semar ke dalam Forum sejarah dan Education tempat saya kumpul bareng teman2, boleh kah saya meng-copy.

      salam hangat pertemanan dari saya ,
      Rendy

    6. Desember 2, 2009 pukul 9:52 pm

      Hormat dan salam kenal saya untuk Bung Rendy.
      Terimakasih bung Rendi mau mampir di pondok Ki Semar. Apapun yang ada dalam blog ini dan mas Rendy suka monggo anda copy paste saja.

      Satu hal yang menarik dari diri Bung Karno adalah: Dia tidak akan menjadi besar karena dipuja, dan takkan hancur karena di cacimaki. Karena Bung Karno adalah sosok yang memiliki nilai tersendiri.

      Bahkan untuk lebih spesifik menyangkut kehidupan Bung Karno Bung Rendy dapat masuk di blog saya yang khusus mengupas masalah Bung Karno. http://penasoekarno.wordpress.com

      Disana Bung Rendy akan menjumpai lebih lengkap koleksi foto Bung Karno.

      Sekali lagi salam hormat dan persahabatan dari saya.

      Salam: Ki Semar

    7. 7 Ir.Ronald
      Desember 5, 2009 pukul 8:00 pm

      Menurut saya cukup beralasan Bung Karno mengangkat dirinya sebagai Presiden seumur hidup.
      Karena dia sangat mencintai Negara beserta rakyatnya, jadi semasa dia hidup tidak mau melihat rakyatnya dijajah lagi, ternyata betul, tetapi tidak langsung akn.
      Bung Karno sadar dan tahu betul ada blok barat yang tidak menginginkan dia, sampai dia mendirikan negara non blok, tapi kenyataannya Bung Karno memihak sedikit ke timur (Rusia dan Cina), kalau mau berpihak sedikit ke barat mungkin selamatlah dia dan kita, karena dia pikir harus memihak ke sana untuk bantuan ekonomi dan perang, misalnya kalau terjadi perang dunia, jadi kita sebetulnya korban perang dingin antara barat (USA, UK dll) dan timur, ini yang banyak rakyat kita tidak tahu hingga sekarang, akhirnya barat berhasil menundukkan sang dewa.

    8. Desember 15, 2009 pukul 1:45 am

      Hormat saya untuk sdr: Ir.Ronald

      Betapapun kecintaan Bung Karno terhadap negeri ini tidak seharusnya mengangkat diri sebagai presiden seumur hidup.
      Saya melihat bahwa keputusan Soekarno saat menjadi Presiden bertentangan dengan jiwa Soekarno muda.

      Salam: Ki Semar

    9. Januari 7, 2010 pukul 11:34 am

      SOEKARNO ADALAH DEWA KU,

    10. 11 nissa
      Mei 27, 2010 pukul 6:45 pm

      Gini Ya…

      sebenarnya kita bisa melihat semua hal dengan 2 sisi, baik dan buruk… semua hal itu bisa dilihat dan dicari. Kalau mas semar melihat dari 4 poin diatas tentunya itu hanya melihat dari kaca mata yang terbatas dan fokus pada kejelekan saja. Menurut Nissa lebih baik kita membicarakan yang baik2nya aja, lagi pula presiden seumur hidup kan yang minta juga bukan Bung Karno, Demokrasi terpimpin? bukannya itu semua karena konstituante gagal membuat UUD? kultus individu? yang mengkultuskan kan orang lain… bukan Bung Karnonya lho… Masalah istri banyak… hmmm ini memang menarik buat nissa ada kontradiksi… tapi at least Bung Karno jujur dan berani bilang kalau dia suka Wanita dan mau kawin sama mereka, bukan main “belakang” hihihih
      gitu deh…

    11. 12 Fian Kaunang
      Agustus 10, 2010 pukul 9:19 pm

      Pandangan ki Semar tentang Soekarno, sejauh perspektif personal, saya sangka tidak bisa ditangkap sebagai gagasan hampa. Saya sepakat tentang beberapa poin di atas. Saya pun senang, karena Ki Semar telah membaca buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi.’ Yang saya ingin tahu(kalau berkenan), yang Ki Semar baca itu, apakah 2 jilid? Terima kasih!

    12. 13 huuuuy
      November 12, 2010 pukul 3:14 pm

      Bung…. Kajilah yang sekarang saja, percuma ngomongin masa lalu…..
      Kalau pun mau ngomongin masa lalu cari solusi yang tepat,,,, jangan bener”an argument…. tak usai”….usai”…bozzzz

    13. 14 R.N.Soetarjono
      Agustus 30, 2011 pukul 12:29 am

      Ngomongin masa lalu itu perlu untuk mengenal identitas bangsa. Pohon yang tak berakar akan tumbang. Bangsa yang tak tahu sejarah- (masa lalu-)nya akan mengalami pertumbangan juga.


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s


    Aku menulis hanya sebatas nalar yang aku punya. Maka tak heran bila terkadang terkesan ugal-ugalan dan berbeda pendapat dengan anda. Salam: Ki Semar

    September 2009
    S S R K J S M
    « Mar   Okt »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

    %d blogger menyukai ini: