13
Okt
09

Benarkah Soekarno Komunis ?

4df4d2740ee407c4 large

Pertanyaan diatas sudah terlalu sering kita dengar. Terlebih diawal berdirinya ORBA atau saat-saat awal runtuhnya kekuasaan Bung Karno.

Mengapa isyu itu harus dihembuskan ? Jawabnya hanya satu: Masyarakat Indonesia sangat religius dan sangat sulit menerima kehadiran seorang komunis. Maka hanya dengan mengisyukan bahwa Soekarno komunislah usaha untuk melepaskan ikatan batin antara Soekarno dan masyarakat yang mencintainya akan berhasil.

Bung Karno, lahir bukan dari keluarga muslim dalam pengertian seperti keluarga “pak haji”. Ibunya dari Bali, yang tentu saja sebelumnya memeluk Hindu sebagai keyakinannya. Ayahnya? Seperti kebanyakan muslim Jawa tempo doeloe, yakni seorang muslim “abangan”, cenderung kejawen. Dia mengenal rukun Islam, dia menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai orang Islam, tetapi juga menjalankan ritual-ritual kejawen yang sarat mistik.

Perkenalan Sukarno dengan Islam lebih dalam, diakuinya saat usia 15 tahun, saat ia duduk di bangku HBS. Yang memperkenalkan adalah H.O.S. Cokroaminoto. Ia bahkan terbilang rajin mengikuti pengajian Muhammadiyah, di sebuah tempat di seberang Gang Peneleh, Surabaya, tempat ia tinggal bersama keluarga Cokro. Sekali dalam sebulan, ia mengaji di sana, dari pukul 20.00 hingga larut malam.

Akan tetapi, pendalaman terhadap Alquran diperoleh tahun 1928, saat ia mendekam di sel nomor 233 penjara Sukamiskin, Bandung. Segala bacaan yang berbau politik dilarang, jadilah ia mendalami Alquran sedalam-dalamnya. Kepada penulis biografinya, Cindy Adams, Bung Karno mengaku, sejak itu ia tak pernah meninggalkan sujud lima kali sehari menghadap ka’bah: Subuh, dhuhur, ‘asar, maghrib, dan isya.

Sejak itu pula, segala sesuatu dijawabnya dengan “Insya Allah — Kalau Tuhan menghendaki.” Mungkinkah seseorang yang sujud lima kali sehari menyembah Allah SWT adalah seorang komunis? Tanyalah dia, “He, Sukarno, apakah engkau akan pergi ke Bogor minggu ini?” Dan Sukarno akan menjawab, “Insya Allah, kalau Tuhan mengizinkan saya pergi.” Mungkinkan orang yang demikian dapat menjadi seorang komunis?

Ia sendiri meragukan kalau ada manusia yang bertahun-tahun disekap dalam dunia penjara yang gelap, tetapi masih meragukan adanya Tuhan. Akan halnya Sukarno, ia bertahun-tahun mendekam di balik jerajak besi. Malam-malam yang gelap, ia hanya bisa mengintip kerlip bintang di langit dari sebuah lubang penjara yang sempit. Manakala rembulan melintas, sejenak sinarnya mengintip Bung Karno di dalam penjara.

Masa-masa yang gelap di dalam penjara, masa-masa di mana ia tak bisa menelan bulat-bulat indahnya purnama dan bintang-gemintang, Bung Karno hanya bisa tertunduk sendiri. Ia sungguh tak tahu nasib akan berkata apa saat fajar menyingsing nanti. Sukarno menuturkan, dalam keadaan seperti itulah, sholat malam menjadi begitu khusuk.

Pengkajian alquran yang intens, menempatkan kesadaran tertinggi seorang Sukarno, bahwa Tuhan bukanlah suatu pribadi. Tuhan tiada hingganya, meliputi seluruh jagat raya. Ia Maha Kuasa. Ia Maha Ada. Tidak hanya di pengapnya ruang penjara, akan tetapi ada di mana-mana. Ia hanya esa. Tuhan ada di atas puncak gunung, di angkasa, di balik awan, di atas bintang-bintang yang ia lihat setiap malam-malam tak berawan. Tuhan ada di venus. Tuhan ada di Saturnus, Ia tidak terbagi-bagi di matahari dan di bulan. Tidak. Ia berada di mana-mana, di hadapan kita, di belakang kita, memimpin kita, menjaga kita.

Sampai pada kesadaran yang demikian, Bung Karno insaf seinsaf-insafnya, bahwa tak ada satu pun yang patut ia takutkan, karena ia sadar betul bahwa Tuhan tak jauh dari kesadarannya. Yang ia perlukan hanyalah bermunajat ke dalam hati yang terdalam untuk menemuiNya. Ia pun memasrahkan setiap langkahnya agar senantiasa dipimpin oleh Tuhan yang ia sembah dalam menggelorakan revolusi kemerdekaan.

Salam: Ki Semar

Iklan

7 Responses to “Benarkah Soekarno Komunis ?”


  1. 1 Miftah
    Juli 17, 2011 pukul 7:22 am

    I Love you Soekarno ..! you’re the true precident !

  2. Oktober 10, 2011 pukul 4:46 pm

    Pintar ya orng munafek sholat sudah gitu di foto , sesungguhnya mereka yg menghancurkan Islam dibumi Indonesia.

  3. 3 universitas
    November 15, 2012 pukul 6:11 am

    Yang berfikir bung karno komunis justru orang itu yang PKI…Indonesia terdiri dari bermacam pulau dan setiap pulau memiliki adat dan agama berbeda..perlulah presiden yang bersikap plural agar setiap pulau tetap dapat terharmonisasi dengan baek…dan dekatnya Bung Karno dengan semua umat itu bukti kepemimpinan tidak memandang sara….

  4. 4 Son ex TGP Brigade XVII
    Desember 25, 2012 pukul 10:20 am

    Agus Efendi@
    ente “wannabi-wahabi” ya..?
    Pantesss….

    Lo gaya”an bilang munafek…
    Lo to ye, yg “Munafikun”…

    Gw tanya ma lo,, Ada Berapa rukun Takbir??
    Jawab… lo dlongop ?!

    (soalnya lo bawa” nama sholat difoto)
    gw tggu nich nie koment…

  5. 5 hvit
    Februari 17, 2014 pukul 10:21 pm

    komunis bukan atheis,,komunis itu ideologi,pluralisme,kapitalisme,demokrasi itu juga ideologi,
    atheis itu tidak percaya adanya tuhan,atheis ada di dalam pluralisme,demokrasi,kapitalis dll
    jangan campur adukkan agama dengan ideologi,,
    lebih baik belajar dan cari tahu dulu apa itu komuni baru ente bicara,,orang MALES BACA jadi sok tahu,
    ane muslim,ane setuju komunis,kalo komunis ada lagi di indonesia ane mau jadi KOMUNIS,
    agama ane muslim ideologi ane komunis.
    zaman ORBA lebih dari 1juta warga yang berideologi komunis ataupun di tuduh komunis habis di bunuh,dan mayoritas mereka adalah muslim,,masyarakat yg malas membaca di doktrin oleh penguasa2 ORBA,mereka meracuni otak2 org bodoh dengan menuduh komunis itu atheis,,sama seperti anda.

  6. 6 antoni marbun.
    April 11, 2014 pukul 4:32 am

    syalom hvit , jgn asal mencari suruh org mencari komuni, sedangkan komuni itu sebuah acara yg sakral dgn kekriistenan,,,, jdi jgn ada praduga lo mu hvit, komuni itu adalah adalah bagian dri komunis, loe tuh menbawa judul kosa kata ,scara tdk langsung kmu mengutarakan acara komuni jdi komunis,,,,, ini butki sebuah peraduga tak bersalah, hvit apa kamu tdk bisa bedakan antara kopi dan kopiah,, makanya hvit lo baca sejarah,,,,,,,,,,,,,,, goblok pisan

  7. 7 antoni marbun.
    April 11, 2014 pukul 4:49 am

    “saya sendiri walau belum lahir pada jaman bpk yg mulia sukarno,, saya tdk yakin bapak yang mulia sukarno itu komunis, semua itu hanya fitnah, untuk tujuan politik kotor .menjatuhkan gemilangnya kepemimpinan beliau, tapi jgn salah suatu ketika di hri yang akan dtg, nama beliau akan harum,sewangi semerbak bunga bunga , mungkin di cucu cicit kita titisan nya akn kokoh berdiri,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Aku menulis hanya sebatas nalar yang aku punya. Maka tak heran bila terkadang terkesan ugal-ugalan dan berbeda pendapat dengan anda. Salam: Ki Semar

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: