19
Sep
10

Diplomasi Pemilihan Pesawat Terbang Ala Bung Karno

Diplomasi Pemilihan Pesawat Terbang Ala Bung Karno

Akhir-akhir ini kita dengar tragedi para tekhnisi pesawat Sukhoi yang meninggal di Indonesia. Entah apa yang akan terjadi di balik peristiwa tersebut, sesak rasanya fikiran untuk mengkajinya.

Dari pada berbicara masalah tragedi perakitan pesawat Sukhoi mungkin akan lebih segar rasanya kalau kita berbicara tentang pesawat terbang dan kaitannya dengan Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Tahun 60-an, saat usia kemerdekaan kita masih berbilang belasan tahun, Indonesia –dan Bung Karno– sudah menjadi bangsa dan negara yang dihargai oleh para pemimpin negara besar, utamanya penguasa Blok Kapitalis (Amerika Serikat) dan Blok Komunis (Rusia atau Uni Sovyet).  Kedua negara adidaya yang terlibat perang dingin karena beda ideologi tadi, saling berebut pengaruh terhadap Indonesia.

Sikap Bung Karno? Sangat jelas, dia menyuarakan kepada dunia sebagai negara nonblok. Sekalipun begitu. bukan berarti Indonesia adalah negara yang istilah Bung Karno hanya “duduk thenguk-thenguk” tanpa berbuat apa-apa bagi peradaban dunia. Nonblok yang aktif. Karena itu pula, Bung Karno berhasil menggalang kekuatan-kekuatan baru yang ia wadahi dalam NEFO (New Emerging Forces), sebuah kekuatan baru, terdiri atas negara-negara yang baru merdeka, atau sedang berkembang.

Nah, ini cerita tentang pesawat terbang. Dalam berbagai lawatan ke luar negeri, pemerintah Indonesia menyewa pesawat komersil Pan America (PanAm), lengkap beserta kru untuk rombongan Presiden Sukarno. Ini sempat jadi masalah diplomatik, ketika Bung Karno hendak berkunjung ke Rusia, memenuhi undangan Kamerad Nikita Kruschev. Sebab waktu itu, tidak ada satu pun perusahaan penerbangan Amerika Serikat yang mempunyai hubungan tetap dengan Moskow.

Rusia terang-terangan keberatan bila Bung Karno datang menggunakan PanAm dan mendarat di Moskow. Karena itu, pihak pemerintah Rusia mengajukan usul, akan menjemput Bung Karno di Jakarta menggunakan pesawat Rusia yang lebih besar, lebih perkasa, Ilyushin L.111.

Sudah watak Bung Karno untuk tidak mau didikte oleh pemimpin negara mana pun. Termasuk dalam urusan pesawat jenis apa yang hendak ia gunakan. Karenanya, atas usulan Rusia tadi, Bung Karno menolak. Bahkan jika kedatangannya menggunakan PanAm ditolak, ia dengan senang hati akan membatalkan kunjungan ke Rusia.

Pemerintah Rusia pun mengalah. Ya… mengalah kepada Sukarno, presiden dari sebuah negara yang belum lama berstatus sebagai negara merdeka, lepas dari pendudukan Belanda dan Jepang.

Akan tetapi, tampaknya Rusia tidak mau kehilangan muka sama sekali, dengan mendaratnya sebuah pesawat Amerika –musuhnya– di tanah Moskow. Alhasil, ketika pesawat PanAm jenis DC-8 mendarat di bandar udara Moskow, petugas traffic bandara langsung mengarahkan pesawat yang ditumpangi Sukarno dan rombongan parkir tepat di antara dua pesawat terbang “raksasa” buatan Rusia, jenis Ilyushin seri L.111. Seketika, tampak benar betapa kecilnya pesawat Amerika itu bila dibanding dengan pesawat jet raksasa buatan Rusia.

Belum cukup dengan aksi “unjuk gigi” tadi, Kruschev yang menjemput Bung Karno di lapangan terbang, masih pula menambahkan, “Hai, Bung Karno! Itukah pesawat kapitalis yang engkau senangi? Lihatlah, tidakkah pesawat-pesawatku lebih perkasa?”

Mendengar ucapan itu, Bung Karno hanya tersenyum lebar dan menjawab, “Kamerad Kruschev, memang benar pesawatmu kelihatan jauh lebih besar dan gagah, tetapi saya merasa lebih comfortable dalam pesawat PanAm yang lebih kecil itu.”

Satu hal yang dapat kita petik dari tulisan ini adalah: Betapa kokohnya Presiden Soekarno dalam mempertahankan prinsip dan sangat antinya Pemimpin Besar Revolusi ini untuk diatur bangsa lain, jangankan politik atau batas wilayah Negara, masalah pesawat terbangpun Presiden Soekarno tidak mau dicampuri. Pertanyaan besar yang ada sekarang adalah: “Mampukah Presiden pasca Soekarno memiliki keteguhan prinsip seperti Soekarno.” Saya yakin anda para pembaca lebih tahu jawabannya.

Salam: Ki Semar

19
Sep
10

Soekarno Dalang Kecemburuan Seorang Wanita

Soekarno Dalang Kecemburuan Seorang Wanita

“Cemburu.” Mengucapkan kata ini maka fikiran kita akan langsung terbang membayangkan sosok seorang wanita. Seperti sebuah mata rantai maka kata cemburu senantiasa melekat pada kata wanita.

Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah semua wanita dengan berbagai latar belakang kehidupan serta pendidikannya ? Jawabnya: “Ya” sekali lagi “Ya.”

Bukan hanya wanita dusun bahkan istri Panglima Tertinggi ABRI dan Pemimpin Besar Revolusi juga dilanda demam cemburu ini. Yang membedakan disini hanya cara mengungkapkan perasaan cemburu bila dia menyandang gelar “Istri Presiden Soekarno”

Sukarno sebagai seorang suami… luar biasa. Itu kesan khusus Hartini, wanita cantik yang dinikahi Bung Karno sebagai istri ke-4 (setelah Utari, Inggit Garnasih, dan Fatmawati). Salah satu hal luar biasa yang dikemukakan Hartini adalah, “Bapak memperhatikan betul semua keperluan istri-istrinya.”

Sekalipun begitu, Hartini pun tak memungkiri, bahwa sebagai manusia, Bung Karno tentu tak luput dari sudut lemah. “Tidak ada manusia sempurna, demikian pula Bapak. Salah satu ketidaksempurnaan Bapak di mata saya adalah dalam hal wanita cantik,” tutur Hartini.

Nah, sebagai seorang wanita yang berstatus istri, tentu saja tidak nyaman jika ada wanita cantik yang mendekati suaminya, baik terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Sebagai seorang presiden, sebagai tokoh bangsa terbesar pada zamannya, sebagai lelaki tampan dan simpatik, jamak kiranya jika banyak wanita cantik menggandrunginya. Apa pun dalih dan latar belakangnya.

“Pertengkaran dalam rumah tangga adalah jamak. Dan hal yang selalu saya ributkan dengan Bapak selalu saja soal wanita,” ujar Hartini. Akan tetapi, tidak ada pertengkaran yang tidak berakhir baik. “Bapak begitu mengerti perasaan wanita. Saya hormat sekaligus kagum pada beliau,” tambahnya.

Sekalipun begitu, api cemburu pada dasarnya tidak pernah padam sepenuhnya di dasar lubuk hati Hartini, demi melihat suaminya didekati atau mendekati wanita cantik lain. Hartini, dalam suatu kesempatan, menemukan ide cemerlang untuk “membalas” rasa cemburunya kepada Bung Karno. Caranya? Tunggu saat Bung Karno mengadakan acara dan dilanjutkan dengan menari lenso kegemarannya.

Hartini pasang strategi, menggandeng tamu pria yang lebih muda, serta tampan parasnya. Ia ajak menari lenso bersama-sama para tamu lain, termasuk Bung Karno yang sedang asyik melenso bersama wanita lain, yang tak lain adalah bagian dari tetamu acara itu.

Sembari menari lenso, Hartini menuntun pasangan menarinya berada pada posisi yang terlihat oleh Bung Karno. Tidak berhenti sampai di situ, Hartini biasanya melakukan obrolan akrab bahkan diseling tawa kecil yang terkesan mesra. Itu semua Hartini lakukan dengan sangat sadar untuk membakar bara cemburu di hati suaminya.

Berhasil!!! Bung Karno sejenak berhenti menari lenso, dan berjalan ke arah Hartini yang sedang melenso dengan pria yang lebih muda. Ditariknya tangan Hartini lepas dari si pria tadi.

Tunggu dulu!!! Apakah kemudian Hartini diajak menari lenso oleh Bung Karno? Ada kalanya iya, adakalanya tidak. Nah, jika tidak, maka Bung Karno akan membimbing Hartini dan memasangkannya dengan pria yang jauh lebih tua. Bung Karno? Ia kembali melenso dengan wanita mana saja yang dikehendakinya….

Bung Karno adalah tetap Bung Karno, pantang mengalah pantang menyerah. Termasuk dalam hal mengobati kecemburuan seorang wanita.

Salam : Ki Semar

19
Sep
10

Presiden Soekarno Melakukan Penggembosan

Presiden Soekarno Melakukan Penggembosan

Istilah menggemboskan atau mengempiskan bila diucapkan oleh Ibu Megawati maka yang terbayang di benak kita adalah sebuah upaya mengurangi perolehan suara untuk PDI-P yang dilakukan oleh Partai pesaing lainnya. Apakah anda setuju dengan pendapat ini ? Terserah anda setuju atau tidak. Tapi yang jelas anda akan menemukan proses menggemboskan atau mengempiskan dari sisi yang berbeda apa bila proses penggembosan atau pengempisan dilakukan oleh Bung Karno.

Megawati mengiringi langkah bapaknya yang seperti biasa, berjalan gagah mendatangi barisan para tetamu dan menyalaminya satu per satu dengan sangat ramah. Pada saat itulah, Megawati melihat raut wajah bapaknya memerah seperti menahan marah. Mega yang biasa dipanggil “Gadis” oleh bapaknya, tahu betul bahwa ada sesuatu yang tidak berkenan di benak bapaknya. Apakah sesuatu itu? Mega tidak tahu.

Barulah ketika Bung Karno sampai di depan seorang ibu, berdandan dengan sangat cantik, berkain-kebaya dengan anggun… tapi… ya, tetapi satu hal yang membuat Bung Karno tidak berkenan, yaitu pada tatanan rambutnya yang kelewat menjulang tinggi karena disasak. Spontan usai menyalami ibu-ibu itu, Bung Karno mengangkat tangan kanannya persis ke arah atas kepala ibu itu, dan kemudian menekannya ke bawah. Ya, mengempiskan sasakan rambut ibu itu.

Usai menekan sasak ibu itu, tanpa berkomentar apa pun, Bung Karno langsung bergeser ke ibu-ibu di sebelahnya, dan kembali melanjutkan ritual menyalami sisa barisan yang ada. Megawati menyaksikan itu semua. Dan dia sangat penasaran, sehingga ketika sampai di rumah, ekspresi ketidaktahuan tentang sikap bapaknya tadi, masih membekas.

Bung Karno, tak lama kemudian, memanggil Megawati dan langsung mengemukakan hal yang benar-benar menggantung di saraf gelisah Megawati. “Gadis…,” Bung Karno membuka kata, “Tahu mengapa Bapak marah sama ibu tadi?” Antara tahu dan tidak, Mega menganggukkan kepala. Bung Karno seolah menganggap Mega tidak tahu, sehingga ia pun melanjutkan kalimatnya, “Ibu itu tidak menunjukkan keprbadian Nasional!”

Mega uluk tanya, “Lalu, bagaimana berkepribadian Nasional itu, Pak? Seorang wanita Indonesia, jawab Bung Karno, adalah wanita yang berpakian kain kebaya dan sebagainya, tetapi harus, sekali lagi harus menunjukkan citra keaslian, yaitu berpakaian cantik, rapih, dan serasi, dan tetap cekatan dalam tindakan, tidak terkungkung ruang geraknya. Karena lahiriahnya bebas, batiniahnya juga bebas dan perasaan menjadi enak. “Mereka harus mempunyai jiwa merdeka,” tegas Bung Karno.

Singkatnya, berkain kebaya saja tidak cukup. Sebab, sasakan rambut menjulang jelas tidak masuk dalam terminologi wanita Indonesia yang cantik, rapih, serasi tetapi cekatan dalam tindakan. Terhadap wanita seperti itu, Bung Karno menjamin, lahiriah dan batiniahnya tidaklah bebas. Tanpa kebebasan lahirian dan batiniah, maka ia belum berjiwa merdeka.

Salam: Ki Semar

19
Sep
10

Pidato Yang Meresahkan

Pidato Yang Meresahkan

Tahukah Anda, malam 1 Juni adalah malam paling meresahkan bagi Bung Karno. Meski dipejam-pejamkannya kedua mata, tak juga mampu mengundang kantuk. Dalam hal Indonesia merdeka, hatinya sudah bulat. Hakkul yakin. Dalam hal kemerdekaan hanya akan kekal dan abadi manakala dilandasi persatuan dan kesatuan, Bung Karno pun hakkul yakin. Meski begitu, ada perasaan yang menghendaki dorongan lebih untuk berbicara keesokan harinya.

Gelisah itu sungguh menggantu pikirannya. Bukan tentang materi apa yang akan dipidatokan keesokan harinya. Untuk berpidato di depan BPUPKI, Bung Karno bahkan tidak perlu mempersiapkannya dalam bentuk teks tertulis. Anehnya, masih ada perasaan yang kurang mantap pada dirinya. Bung Karno terus dan terus merenungkan itu sembari membolak-balikkan tubuhnya di atas dipan.

Ketika rasio terbentur tembok… manakala hati tak mampu lagi menyuarakan pendapatnya yang paling benar… Bung Karno hanya ingat, Tuhan-lah satu-satunya tempat ia bertanya. Hanya Tuhan yang mampu meredam kegundahgulanaan perasaan. Ia tahu apa yang harus diperbuat. Turun dari tempat tidur, dan melangkahkan kaki ke luar rumah, persisnya ke bagian belakang rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

Di belakang rumah, ia segera menekuk lutut berlutut, menengadahkan wajah ke atas, memohon petunjuk Allah SWT. Malam itu, malam bulan Juni saat cuaca sangat cerah. Di atas, ia saksikan ribuan… ratusan ribu… mungkin jutaan bintang berkerlap dan berkerlip. Dalam posisi lutut tertekuk, muka menengadah, kedua tangan memohon… disaksikan ribuan bintang… Bung Karno menjadi seorang hamba Allah yang begitu kecil.

“Ya Allah Ya Rabbi… berikanlah ilham kepadaku. Besok pagi aku harus berpidato mengusulkan dasar-dasar Indonesia merdeka. Pertama, benarkah keyakinanku, ya Tuhan, bahwa kemerdekaan itu harus didasarkan atas persatuan dan kesatuan bangsa? Kedua, ya Allah ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku, berikanlah ilham kepadaku, kalau ada dasar-dasar lain yang harus kukemukakan: Apakah dasar-dasar itu?”

Itulah lantunan doa Bung Karno kepada Allah SWT sebelum keesokan paginya berpidato di hadapan sidang BPUPKI. Usai berdoa, Bung Karno pun kembali masuk ke kamar dan membaringkan kembali tubuhnya di pembaringan. Ia menenangkan pikiran dan mencoba tidur. Entah karena permohonan sudah disampaikan, atau karena ia memang sudah lelah… tak lama kantuk datang menyerang dan Bung Karno pun terlelap.

Keesokan paginya, pagi-pagi sekali ia sudah bangun. Setelah shalat shubuh, Bung Karno pun mendapatkan ilham Pancasila. Jawaban spontan dari Tuhan atas doa yang ia lantunkan semalam.

Kisah tersebut, acap disampaikan Bung Karno dalam kesempatan berpidato di berbagai kesempatan pasca kemerdekaan kita. Meski bukan yang pertama dan kedua, setiap Bung Karno menuturkan kegelisahan malam 1 Juni, kemudian beranjak ke belakang rumah, berlutut dan berdoa… hampir dapat dipastikan air mata pasti meleleh dari pipinya. Biasanya, Bung Karno akan berhenti berpidato sejenak dan berkat, “Maaf… kalau aku ingat ini selalu terharu….”

Salam: Ki Semar

26
Feb
10

detikcom : Golkar Diminta Tak Salahkan Boediono-Sri Mulyani

title : Golkar Diminta Tak Salahkan Boediono-Sri Mulyani
summary : Pengamat ekonomi Faisal Basri meminta Golkar tidak terus menyalahkan Sri Mulyani dan Boediono. Faisal menilai Golkarlah yang merusak negara ini dari dulu. (read more)

03
Jan
10

BUNG KARNO: PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT


BUNG KARNO: PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT

BAB I : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

BAB II: Putera Sang Fajar

BAB III Mojokerto: Kesedihan Di Masa Muda

BAB IV: Surabaya Dapur Nasionalisme

BAB V: Bandung Gerbang Ke Dunia Putih

BAB VI: Marhaenisme

BAB VII: Bahasa Indonesia

BAB VIII: Mendirikan P.N.l.

BAB IX: Masuk Tahanan

BAB X: Penjara Banceuy

BAB XI: Pengadilan

BAB XVII: Pelarian

BAB XIII: Keluar Dari Penjara

BAB XIV: Masuk Kurungan

BAB XV: Pembuangan

BAB XVI: Bengkulu

BAB XVII: Pelarian

Bab XVIII: Jepang Mendarat

Bab XIX: Pendudukan Jepang

Bab XX: Kolabolator Atau Pahlawan?

Bab XXI: Puteraku Jang Pertama

22
Nov
09

Mobil RI 1 Bung Karno

“Seorang Presiden tidak punya mobil. Apa kata dunia.”
Mungkin tidak terlalu berlebihan bila kata-kata iklan itu saya pinjam untuk mengawali tulisan kali ini.
Berdirinya sebuah Republik baru serta tampil perdananya seorang Presiden tentu membutuhkan berbagai atribut yang dapat mendongkrak kharisma serta wibawa sebuah negara baru. Indonesia sebagai negara yang baru berdiri kala itu tak lepas pula dari permasalahan diatas.

Kisah menarik yang tercecer pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada hari Jumat legi, 17 Agustus 1945 adalah ihwal mobil kepresidenan yang pertama. Problem muncul manakala Sukarno sudah menyandang predikat “PRESIDEN”, maka pengikutnya beranggapan –dan ini wajar saja– bahwa seorang Presiden harus mempunyai kendaraan.

Seorang pengikut Sukarno yang setia, namanya Sudiro sontak teringat kepada sebuah mobil Limousine merek Buick besar yang begitu cantik, bahkan tercantik di Jakarta. Mobil itu muat tujuh orang, bahkan memakai kain jendela di bagian belakangnya.

Apa daya, mobil itu kebetulan kepunyaan seorang Jepang yang menjabat Kepala Jawatan Kereta Api. Ah… peduli amat, ini kan suasana revolusi, begitu pikir Sudiro. Sehingga ia, diiringi sejumlah pengikut setia Bung Karno lain, mendatangi rumah pemilik Buick yang cantik itu. Dan didapatinya sang mobil idaman terparkir rapi d garasi.

Kebetulan, Sudiro mengenal baik sopir mobil itu. Maka setelah memekik salam, “Merdeka!”, Sudiro melontarkan maksudnya, “Heh… saya minta kunci mobilmu.” Tentu saja sang pengemudi gelagapan. Kepalanya penuh tanda tanya, “Kenapa? Kenapa?” Di tengah raut wajah kebingungan, Sudiro segera menimpali, “Karena saya bermaksud hendak mencurinya buat PRESIDENmu!”

Si sopir yang patriotis itu meringis sambil keluar dari mobil dan menyerahkan kunci itu. Si sopir segera disuruhnya pulang kampung di Jawa Tengah. Begitulah sekelumit kisah unik mobil kepresidenan Bung Karno.

Kemudian dari sebuah situs otomotif, diketahuilah spesifikasi mobil limousine Buick itu. Mobil itu diketahui disebut sebagai Buick Eight, buatan Buick. Mobil ini hanya diproduksi sebanyak 1451 unit pada tahun 1939. Dan memiliki kapasitas sebesar 5248cc dengan mesin empat langkah yang memiliki 8 silinder dan 2 katup di setiap silindernya.

Mobil yang menyandang nomor polisi Rep-1 ini juga memiliki perbandingan kompresi yang cukup prima, yaitu, 6.35:1. Selain itu, mobil ini pun dapat mengeluarkan tenaga yang cukup mumpuni pada zamannya, yakni, dapat mencapai 141 hp pada 3600 rpm. Serta memiliki perbandingan Bore X Stroke, 87.3 X 109.5.

Mobil Buick Limited-8 ini secara visual memang terlihat sangat berwibawa. Apalagi untuk menunjang kemewahan serta guna menjaga ‘rahasia negara’ yang mungkin terucap di dalam kabin mobil tersebut, maka mobil ini pun dilengkapi selembar kaca yang memisahkan penumpangnya dengan pengemudi yang dapat dibuka dengan sebuah tuas yang diputar. Hingga kini, kendaraan kepresidenan pertama itu tersimpan rapi di Gedong Joang 45.




Aku menulis hanya sebatas nalar yang aku punya. Maka tak heran bila terkadang terkesan ugal-ugalan dan berbeda pendapat dengan anda. Salam: Ki Semar

April 2014
S S R K J S M
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.